Tampilkan postingan dengan label quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label quran. Tampilkan semua postingan

21 Februari, 2022

Tafsir,Al Qur'an Faedah Surat An-Nuur #45: Anak Meminta Izin ketika Masuk Kamar Orang Tua

Tafsir,Al Qur'an
Tafsir,Al Qur'an
Faedah Surat An-Nuur #45: Anak Meminta Izin ketika Masuk Kamar Orang Tua
Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
Islam mengajarkan adab yang luar biasa yaitu sedari kecil saja anak yang sudah tamyiz diajarkan meminta izin kepada orang tua ketika masuk kamar.

  1. 1- Tafsir Surah An-Nur 58-59
  2. 2- Penjelasan ayat
  3. 3- Penjelasan ayat
  4. 4  Refrensi

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ۚ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ۚ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ ۚ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

وَإِذَا بَلَغَ الْأَطْفَالُ مِنْكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوا كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat Shubuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana..” (QS. An-Nuur: 58-59)

Penjelasan ayat

Dalam Tafsir Al-Mukhtashar disebutkan:

“Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan beramal dengan syariat-Nya, hendaknya hamba sahaya lelaki dan wanita yang kalian miliki, serta anak-anak merdeka yang belum mencapai usia dewasa atau balig di antara kalian meminta izin kepada kalian dalam tiga waktu (dalam sehari) yaitu: sebelum salat subuh yang merupakan waktu pergantian pakaian tidur dengan pakaian biasa; ketika waktu tengah hari yang merupakan waktu menanggalkan pakaian luarmu untuk beristirahat siang; dan sesudah salat isya yang merupakan waktu tidur dan waktu mengganti pakaian biasa dengan pakaian tidur.

Tiga waktu ini merupakan tiga aurat bagi kalian, mereka tidak ada yang boleh masuk kamar kalian kecuali atas izin kalian. Tidak ada dosa atas kalian dan tidak pula atas mereka bila mereka memasuki ruangan kalian selain dari tiga waktu itu tanpa izin. Mereka banyak melayani kalian, sebagian kalian punya keperluan kepada sebagian yang lain sehingga sangat susah bila mereka dilarang untuk menemui kalian di setiap waktu dengan izin dahulu. Sebagaimana Allah menjelaskan kepada kalian hukum-hukum perizinan ini bagi kalian, maka Dia juga menjelaskan ayat-ayat yang menunjukkan hukum-hukum syariat-Nya kepada kalian. Dan Allah Maha Mengetahui maslahat hamba-hamba-Nya, lagi Maha Bijaksana dalam menetapkan hukum-hukum syariat bagi mereka.

Dan apabila anak-anak kecil dari kalian telah mencapai usia baligh dan masa mukallaf untuk mengemban kewajiban hukum-hukum syariat, maka mereka harus meminta izin bila akan masuk di seluruh waktu, sebagaimana orang-orang dewasa meminta izin dahulu. Dan sebagaimana Alllah telah menjelaskan adab-adab meminta izin, Allah juga menjelaskan ayat-ayatNya kepada kalian. Dan Allah Maha mengetahui hal-hal yang mendatangkan kemaslahatan hamba-hambaNya, lagi Mahabijaksana dalam penetapan syariatNya.

Faedah ayat

  1. 1. Dalam ayat 58 di sebutkan bahwa hendaklah dua golongan meminta izin yaitu anak kecil yang belum baligh dan budak dalam dalam tiga waktu disebutkan; (1- Dalam ayat 58 disebutkan bahwa hendaklah dua golongan meminta izin yaitu anak kecil yang belum baligh dan budak dalam tiga waktu yang disebutkan: (1) sebelum shalat Shubuh, (2) ketika menanggalkan pakaian luar di tengah hari, (3) sesudah shalat Isyak. Untuk selain anak-anak dan budak, hendaklah meminta izin setiap kali masuk.
  2. 2. Ayat ini menunjukan tidak boleh melihat aurat. Jika wajib meminta izin dalam tiga waktu karena khawatir aurat terlihat begitu saja secara tiba-tiba, maka tentu yang melihat aurat secara sengaja tidaklah dibolehkan. Hal ini dilarang baik yang melihat aurat adalah anak kecil maupun orang dewasa.
  3. 3 Yang dimaksud anak kecil yang meminta izin di atas adalah anak keci yang sudah tamyiz, seadangkan anak kecil yang belum tamyiz belum mengetahui apa.
  4. 4 Boleh melepas baju saat tidur. 
  5. 5 Biasanya tidur siang itu ringkas sehingga tidak melepas pakaian, beda dengan tidur malam.
  6. 6 Anak yang sudah balogh dikenakan hukum. Tanda baligh adalah: (1) keluar mani (ihtilam), (2) datang haidh, (3) usia 15 tahun.
  7. 7 Tiga waktu yang disebutkan adalah waktu yang umumnya aurat terbuka.
  8. 8 Anak-anak dibagi menjadi tiga: (1) anak yang belum tamyiz. tidak mengetahui apa-apa, mereka tidak harus minta izin, (2) anak yang sudah tamyiz harus meminta izin pada tiga waktu, (3) anak yang sudah baligh harus meminta izin setiap waktu.
  9. 9 Ada njuran tidur siang (qailulah).
  10. 10 Saudara laki-laki hendaklah meminta izin ketika ingin memasuku kamar saudara perempuanya.

  • At-Tashil li Ta'wil At-Tanzil Tafsir Sunah An-Nuur fii Sual wa Jawab. Cetakan kedua. Tahun 1423H. Syaikh abu 'Abdillah Musthafa Al-'Adawi. Penerbita Maktabah Makkah.
  • Tafsir Al-Qur'an Al-Karim Surah An-Nuur. Cetakan Pertama. Tahun 1436H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Al-Utsaimin. Penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
Disalin dari Artikel Rumaysho.com
Penulis salinan; Rachmat.M.M.a

08 Januari, 2022

Al-Qur'ân Bukan Untuk Orang Mati

Al-Qur'ân Bukan Untuk Orang Mati

Al-Qur'ân Bukan Untuk Orang Mati
Oleh Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari
Adalah kebiasaan di beberapa daerah, orang membaca kitab suci al-Qur'ân -atau membaca surat Yasin- kemudian pahalanya dihadiahkan untuk orang yang telah mati. Bahkan sebagian orang, ada menyewa atau membayar seseorang atau sekelompok orang untuk membaca al-Qur'ân dan menghadiahkan pahalanya kepada keluarganya yang telah meninggal dunia. Pembacaan al-Qur'ân ini biasanya dilakukan di rumah duka, di kuburan atau lainnya. Benarkah perbuatan mereka menurut syari'at Islam?

Membaca al-Qur'ân untuk orang mati tidak dibenarkan dalam agama Islam dengan alasan sebagai berikut :

1. Membaca al-Qur'ân lalu menghadiahkan pahalanya untuk orang yang telah mati tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, para sahabat dan para tabi'in. Sementara kewajiban kita dalam beragama adalah mengikuti petunjuk, bukan perkara baru. Allah Azza wa Jalla berfirman:

Katakanlah jika kamu mencintai Tuhan, ikutilah aku, karena Tuhan akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.

Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allâh, ikutilah aku, pastilah Allâh mencintai dan mengampuni dosa-dosamu .” [Ali 'Imrân/3:31]

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu bagi orang-orang yang mengharap kepada Allah dan Hari Akhir, dan Allah mengingatnya

Sesungguhnya pada (diri) Rasûlullâh itu telah ada suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari hari dan dia banyak menyebut Allâh . [Al-Ahzab/33:21]

2. Orang yang membolehkan membaca al-Qur'ân lalu menghadiahkan pahalanya untuk orang yang telah mati, dia harus dalil dari al-Qur'ân atau as-Sunnah. Jika dia tidak bisa dengan dalil, berarti dia telah berbicara tentang agama tanpa dasar ilmu.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

Mengatakan.

Katakanlah, “Rabbku mengharamkan perbuatan yang keji, yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, pelanggaran hanya manusia tanpa alasan yang, (mengharamkan) mempersekutukan Allâhtuh Denuk ram edganak Allâh apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allâh tanpa ilmu) ” [al-A'râf/7:33]

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullâh bin Bâz rahimahullah mengatakan, “Berbicara tentang Allâh tanpa ilmu termasuk perkara terbesar yang diharamkan Allâh. Bahkan itu lebih tinggi dari perbuatan syirik. Karena dalam ayat tersebut Allah Azza wa Jalla mengurutkan perkara-perkara yang diharamkan mulai dari yang paling rendah ke yang paling tinggi. Berbicara tentang Allah tanpa ilmu, meliputi berbicara (tanpa ilmu) tentang hukum-hukum Allah, syari'at-Nya dan agamaNya. Termasuk berbicara tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla . Ini lebih besar dosanya daripada berbicara (tanpa ilmu) tentang syari'at dan agama Allah Azza wa Jalla .” [1]

3. Barangsiapa membolehkan membaca al-Qur'ân untuk dihadiahkan pahalanya buat orang yang telah mati, berarti dia telah membuat syari'at yang tidak diidzinkan oleh Allâh Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman mengingkari orang-orang musyrik yang mengikuti syariat agama yang tidak diidzinkan oleh Allah:

Apakah tidak ada sekutu bagi mereka yang telah mengatur bagi mereka agama yang tidak dibolehkan oleh Allah?

Apakah mereka memiliki sembahan-sembahan selain Allâh yang mensyariatkan untuk agama mereka yang tidak mengizinkan Allâh? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allâh) tentulah mereka telah dibinasakan. [asy-Syûrâ/42: 21]

4. Perbuatan tersebut bertentangan dengan firman Allah Azza wa Jalla :

Bahwa seorang wanita menanggung beban yang lain, dan bahwa seorang pria tidak memiliki apa-apa selain apa yang dia perjuangkan.

Seorang yang bersalah tidak akan dosa orang lain. Dan seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya . [an-Najm/53: 38-39]

Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Maksudnya adalah seorang manusia hanya mendapatkan pahala dari usaha dan balasan perbuatannya sendiri. Amalan seseorang tidak bisa bermanfaat bagi orang lain. Keumuman makna dalam ayat ini dikecualikan dengan semisal firman Allâh Azza wa Jalla :

Baca Juga Hukum Shalat Di Belakang Imam Yang Bertalhin Dalam Bacaan Al-Qur'an

kami bergabung dengan mereka dengan keturunan mereka

Kami menghubungkan anak cucu mereka dengan mereka . [ats-Thur/52:21]

Dan semisal riwayat tentang syafa'at para Nabi dan Malaikat untuk para hamba, doa orang hidup untuk orang-orang yang telah mati dan semacamnya. Orang yang mengatakan bahwa ayat ini mansûkh (hukumnya dihapus) dengan perkara-perkara tadi adalah kutipan yang tidak benar. Karena dalil yang khusus menghapus dalil yang umum, namun hanya tidak menerapkannya (mempersempit maknanya). Sehingga semua dalil yang menunjukkan bahwa manusia bisa mendapatkan manfaat dari selain usaha itu sendiri adalah dalil yang keumuman ayat di atas.” [2]

5. Adapun membaca al-Qur'ân lalu pahalanya dihadiahkan buat orang yang telah mati, tidak ada dalil yang menuntunkannya. Allah Azza wa Jalla menurunkan al-Qur'ân sebagai hidayah (petunjuk) bagi manusia. Sehingga orang hidup bisa memanfaatkannya, mengikuti petunjuknya di dunia ini dan mengamalkannya. Di akhirat, orang-orang yang seperti ini akan dituntun oleh al-Qur'ân menuju surga.

Sedangkan orang yang telah mati, maka amalannya telah terputus, dia tidak mampu menambahi atau mengurangi amalannya.

Perbuatan sebagian orang di zaman ini berlawanan dengan kondisi di atas. Ketika masih hidup, mereka meninggalkan al-Qur'ân, enggan membaca atau mendengarkannya. Mereka lebih suka menyanyi, mendengar musik, menonton film dan hal-hal lain yang tidak bermanfaat di akhirat. Jika ada orang mati, mereka membacakan al-Qur'ân untuk jenazah tersebut pada acara pemakamannya atau di kuburnya.

Mereka ini seperti orang mogok makan sampai mati. Setelah dia mati, orang-orang mendatanginya membawakan makanan agar dia memakannya. Al-Qur'an hanya bermanfaat bagi orang yang hidup selama masih berada di dunia, ladang beramal. Adapun setelah mati, maka dia telah pindah dari fase beramal menuju fase pembalasan amal. Pada waktu itu al-Qur'an tidak bermanfaat baginya, karena ketika hidup meninggalkan al-Qur'an, padahal dia mampu mengambil manfaat darinya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

Tidak lain hanyalah dzikir dan Al-Qur'an yang jelas untuk memperingatkan siapa pun yang hidup, dan perkataan itu adalah benar bagi orang-orang kafir.

Al-Qur'ân itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup dan supaya pastilah terhadap orang-orang kafir . [Yâsn/36:69-70]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman,

Nah kurangnya berita tentang apa yang telah memiliki dua orang yang memiliki laki-laki dari saya telah menawarkan kepadanya.

Demikian kami kisahkan (Muhammad) sebagian kisah yang lalu, dan sesungguhnya kami telah memberikan dari suatu sisi kami suatu peringatan (al-Qur'ân). Barangsiapa berpaling dari al-Qur'ân, maka sesungguhnya ia akan menjadi dosa yang besar di hari-hari. Mereka kekal di dalam keadaan itu dan buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari hari . [Thâha/20:99-101]

6. Membaca al-Qur'ân adalah ibadah dan ibadah itu tauqifiyyah, artinya harus mengikuti tuntunan. Jika seseorang beribadah tanpa tuntunan, berarti dia beribadah kepada Allâh semaunya sendiri, padahal Allâh Azza wa Jalla berfirman :

Saya melihat mereka yang mengambil tuhannya tetapi saya sedang melakukan agen atau menghitung bahwa kebanyakan dari mereka mendengar atau menghilang jika mereka hanya seperti di bawah ini, tetapi mereka takut

Terangkanlah padaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya! Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara di atasnya?, Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka mendengar atau memahami? itu tidak lain, hanya seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat mereka (dari binatang ternak itu) . [al-Furqân/25:43-44]

7. Pahala suatu amal belum tentu diraih oleh orang yang mengamalkannya. Bagaimana mungkin ia menghadiahkan sesuatu yang belum pasti kepada orang lain. Karena amalan akan diterima dengan beberapa syarat :

iman

Ikhlas

Sesuai tuntunan syari'at

Bersih dari hal-hal yang mirip dengan amal, seperti riyâ', 'ujub dan lainnya.

Seseorang tidak tahu, apakah amalnya diterima atau tertolak.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma berkata, “Jika aku tahu shalatku diterima (oleh Allâh), maka aku benar-benar mengharapkan kematian, karena Allâh Azza wa Jalla berfirman :

Tuhan hanya menerima dari orang yang bertakwa

Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa . [al-Maidah/5:27]

8. Membaca al-Qur'ân pada acara kematian atau di depan jenazah atau di kuburan merupakan perkara baru dalam agama, sedangkan semua perkara baru dalam agama adalah bid'ah dan semua bid'ah adalah sesat. Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

Kami menyarankan Anda mengatakan kepada Tuhan, pendengaran dan ketaatan.

Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertaqwa kepada Allâh; mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselishan yang banyak. Maka wajib kamu berbegang kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan giggitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid'ah, dan semua bid'ah adalah sesat . [3]

Perbuatan tersebut tidak ada tuntunan dari Nabi, dari Khulafaur rasyidin, dari para sahabat, dari tabi'in dan dari tabi'ut tabi'in, sehingga hukumnya bid'ah dan sesat.

9. Kalau kita tahu bahwa hal itu bid'ah, maka pasti tidak ada pahalanya, sebaliknya yang ada adalah dosa. Jika keadaannya demikian, maka menghadiahkan pahala merupakan perbuatan dan perbuatan sia-sia. Ini seperti orang yang menggenggam tangan yang kosong, lalu dia berkata kepada orang lain yang membutuhkan bantuan, “Ambilah!”, padahal tangannya.

10. Sebenarnya semua orang sangat butuh untuk amalannya. Pada hari nanti, semua orang akan sangat mengkhawatirkan dirinya, akankah amalannya bisa menyelamatkannya?! Masing-masing akan lebih mementingkan dirinya daripada saudaranya atau ibunya atau bapaknya. Jika demikian, berarti orang yang menghadiahkan amalannya seolah dia sudah memastikan bahwa dijamin aman, tidak ada ruginya dan seolah-olah dirinya tidak butuh karunia Allâh Azza wa Jalla . Allah Azza wa Jalla berfirman:

Dan jika jeritan itu datang pada hari ketika seseorang akan lari dari saudaranya, ibu, ayahnya, temannya, dan putranya, semua orang akan lari darinya.

Dan appabila come suara yang memekukkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu memiliki urusan yang cukup menyibukkannya . ['Abasa/80:33-37]

Penjelasan singkat tentang beberapa hal penting berkaitan dengan bacaan al-Qur'an yang menghadiahkan pahalanya bagi orang yang sudah meninggal. Ada sebagian orang yang berkilah bahwa apa yang dia lakukan adalah tradisi atau adat. Namun itu hanya alasan saja, karena yang menjadi tujuan adalah pahala, sementara yang namanya tradisi atau adat, pelaksanaannya bukan untuk mencari pahala. Kalau tujuan mencari pahala, berarti itu adalah ibadah. Dan ibadah harus sesuai dengan tuntunan syari'at.

Semoga penjelasan ini dapat bermanfaat dan menggugah kesadaran kita untuk lebih semangat dan waspada dalam melaksanakan ibadah.

Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo - Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]


Footnote

[1] Catatan kaki kitab at-Tanbihatul Lathîfah 'Ala Ma Ihtawat alm. 34, tahqiq Syaikh Ali bin Hasan, penerbit Dar Ibnil Qayyim
[2] Fathul Qadir, tafsir surat an-Najm ayat 39
[3] HR. Abu Dawud no: 4607; Tirmidzi 2676; Ad-Darimi; Ahmad; dan lainnya dari al-'Irbâdh bin Sâriyah
Disalin dari Sumber Artikel; Almanhaj.or.id

13 November, 2021

Tafsir Ayat Tentang “Pohon Kurma”? (Bag. 1)

Selengkapnya Tekan Tombol Buka

Al QURAN, TAFSIR

Tafsir Ayat Tentang “Pohon Kurma”? (Bag. 1)

Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du :

Ayat Tentang “Pohon Kurma”l

Sobat, tahukah anda bahwa Allah Ta’ala telah membuat perumpamaan tentang pohon iman di dalam Alquran?

Simaklah firman Allah Ta’ala berikut ini :

{أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ}

(24) Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan dahannya (menjulang) ke langit,

{تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ}

(25) pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS.Ibrahim : 24-25).

Baca Juga: Tafsir Surat Ad Dukhan Ayat 10-15: Munculnya Dukhan Di Akhir Zaman

Tafsir Surat Ayat Tentang “Pohon Kurma”

Berikut ini tafsiran pakar tafsir dari kalangan Salaf Sholeh rahimahumullah :

Tafsir {كَلِمَةً طَيِّبَةً} = “kalimat yang baik”

Pakar tafsir dari kalangan sahabat, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan dengan :

شهادة أن لا إله إلا الله

“Syahadat La ilaha illallah”

Ar-Rabi’ bin Anas radhiyallahu anhu menafsirkan dengan :

هذا مَثَلُ الإيمان

“Ini adalah perumpamaan iman”

Tafsir {كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ} = “seperti pohon yang baik”

Dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim (lafazh Muslim), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَخْبِرُونِى عَنْ شَجَرَةٍ مَثَلُهَا مَثَلُ الْمُؤْمِنِ

“Kabarkanlah kepadaku tentang sebuah pohon yang perumpamaannya seperti seorang mukmin ?”

Di akhir hadits , beliau menyebutkan pohon tersebut dengan sabdanya :

هي النخلة

“Pohon itu adalah pohon kurma”

Pakar tafsir dari kalangan tabi’in, Mujahid rahimahullah menafsirkan dengan :

كنخلة

“seperti pohon kurma”

Sahabat yang mulia, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menafsirkan dengan :

هي النخلة

“Pohon tersebut adalah pohon kurma”

Tafsiran Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu :

“Pohon tersebut adalah pohon di surga”

هي شجرة في الجنة

Tafsiran pakar tafsir dari kalangan tabi’in, Qotadah rahimahullah :

كنا نُحَدَّث أنها النخلة

“Dahulu kami membicarakan tentangnya, bahwa pohon tersebut adalah pohon kurma”

Tafsiran pakar tafsir dari kalangan tabi’in, Ikrimah rahimahullah :

هي النخلة

“Pohon tersebut adalah pohon kurma”

Tafsir {تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا } = “pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya”

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan dengan :

غُدْوةً وعشيّةً

“pagi dan sore”

يذكر الله كلّ ساعة من الليل والنهار

“Mengingat Allah setiap saat, malam dan siang”

Adh-dhahhak rahimahullah berkata :

المؤمن يطيع الله بالليل والنهار وفي كل حينٍ

“Seorang mukmin taat kepada Allah pada malam dan siang hari serta setiap saat”

تخرج ثمرتها كُلَّ حين. وهذا مثلُ المؤمن يعمل كل حين ، كل ساعة مِن النهار ، وكل ساعة من الليل ، وبالشتاء والصيف ، بطاعة الله

“Keluar buahnya setiap saat. Ini perumpamaan seorang mukmin yang beramal sholeh setiap saat, tiap waktu siang dan malam, baik di saat musim dingin maupun musim panas dengan taat kepada Allah”

Ar-Rabi’ bin Anas radhiyallahu anhu menafsirkan dengan :

يصعَدُ عمله أولَ النهار وآخره

“Naik amalnya di awah hari dan diakhir hari”

Tafisr firman Allah Ta’ala :

{أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ}

(24) Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan dahannya (menjulang) ke langit.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan firman-Nya :

{ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً }

“Syahadat La ilaha illallah”

{ كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ }

“yaitu seorang yang beriman”

{ أَصْلُهَا ثَابِتٌ }

“La ilaha illallah dalam hati seorang mukmin”

{ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ }

“amal seorang mukmin diangkat ke langit dengan sebabnya (La ilaha illallah)”

Dalam ucapan beliau yang lainnya :

“Yang dimaksud dengan pohon yang baik adalah seorang mukmin, dan maksud dari akarnya teguh di bumi dan cabangnya (menjulang) ke langit adalah seorang mukmin beramal sholeh dan berbicara di bumi , lalu amal dan ucapannya sampai di langit sedangkan ia tetap di bumi”

Ar-Rabi’ bin Anas radhiyallahu anhu menafsirkan firman Allah :

{ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً }

beliau berkata : “Ini adalah perumpamaan iman. Iman diperumpamakan sebagai pohon yang baik, akarnya kokoh yang tidak hilang, yaitu : ikhlash lillah, dan dahannya ke langit, yaitu cabang keimanan berupa takut kepada Allah yang didasari ilmu”

Baca Juga:

  • Tafsir Ayat Proses Kesembuhan Nabi Ayyub ‘Alaihissalam
  • Al-Quran Tidak Bisa Ditafsirkan dengan Metode Hermeneutika

(Bersambung, in sya Allah)

Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah

Disalin dari Sumber Artikel: Muslim.or.id

Penulis Salinan; Rachmat.M.Ma,Flimban

Terimakasih Atas Kunjungannya, Insya Allah Bermanfaat

Penulis; Rachmat.M.Ma,Flimban

Terimakasih Kunjungannya, Semoga Bermanfaa, Tinggalkan Pesan dan Saranya di kolom tersedi di bawah ini.

01 September, 2021

Sebaik-Baik yang Mempelajari Alquran dan Mengajarkannya

HADITS

Makna Hadits: Sebaik-Baik Kalian adalah yang Mempelajari Alquran dan Mengajarkannya

Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.

Meluruskan pemahaman keliru terhadap maksud dari hadits belajar Al-Qur’an: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”

Daftar Isi  sembunyikan 
  1. Pemahaman yang salah!
  2. Akibat dari meyakini pemahaman yang salah tersebut
  3. Tujuan Al-Qur’an diturunkan
  4. Makna yang benar dari hadits di atas
  5. Kesimpulan
  6. Catatan Penting!

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah,amma ba’du :

Pemahaman yang salah!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خيركم من تعلم القرآن وعلمه 

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. Bukhori).

Di antara pemahaman yang salah dalam memahami hadis di atas adalah membatasi golongan manusia yang layak disebut sebagai orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya hanyalah sebatas orang yang mempelajari dan mengajarkan huruf dan lafadz Al-Qur’an, Tajwid dan ilmu Qiro`ahnya semata! Ini adalah sebuah keyakinan yang salah!

Akibat dari meyakini pemahaman yang salah tersebut

Ketika seseorang meyakini keyakinan yang salah ini, maka sangat memungkinkan ia akan merasa cukup bila sudah menguasai ilmu Tajwid dan Qiro`ah atau sudah hafal Al-Qur’an, maka bisa jadi ia akan berhenti ataupun malas dari melanjutkan mempelajari tafsir Al-Qur’an, memahami makna dan penjelasan kandungannya, baik berupa aqidah yang shohihah, ibadah, akhlak karimah serta hukum-hukum Syari’at.

Karena ia merasa sudah mengamalkan hadits ini, guna meraih derajat yang terbaik!

Tujuan Al-Qur’an diturunkan

Syaikh Muhammad Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah telah menjelaskan:

فالقرآن الكريم نزل لأمور ثلاثة: التعبد بتلاوته، وفهم معانيه والعمل به

“Al-Qur’an itu diturunkan untuk tiga tujuan : beribadah dengan membacanya, memahami makna dan mengamalkannya”

Lihatlah, di sini Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menunjukkan tiga perkara yang menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur’an, tentunya ketiga perkara ini sama-sama pentingnya, sama-sama baiknya, sama-sama menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur’an! 

Pertama dari tujuan tersebut adalah beribadah kepada Allah dengan membacanya, tentunya membacanya dengan tajwid dan ilmu Qiro`ah,

Kedua,  memahami makna atau tafsirnya,

Ketiga,  mengamalkannya.

Maka -misalnya- ketika seseorang baru meraih salah satu dari tiga perkara itu dengan baik, berarti baru meraih sepertiga dari tujuan diturunkannya Al-Qur’an! Janganlah berhenti sampai di situ saja, teruskan meraih dua perkara yang lainnya.

Makna yang benar dari hadits di atas

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullahu setelah membawakan hadits di atas,lalu menjelaskan maknanya  :

وتعلم القرآن وتعليمه يتناول تعلم حروفه وتعليمها , وتعلم معانيه وتعليمها 

Mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya mencakup:

  1. Mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya

  2. Mempelajari dan mengajarkan makna-maknanya

وهو أشرف قسمي تعلمه وتعليمه , فإن المعنى هو المقصود , واللفظ وسيلة إليه ,

Yang terakhir inilah (yaitu no.2, pent.) merupakan jenis mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya yang paling mulia, karena makna Al-Qur’an itulah yang menjadi tujuan yang dimaksud, sedangkan lafadz Al-Qur’an  adalah sarana untuk mencapai maknanya.

 فتعلم المعنى وتعليمه تعلم الغاية وتعليمها 

Maka  mempelajari dan mengajarkan makna-maknanya (hakekatnya) adalah mempelajari dan mengajarkan tujuan.

وتعلم اللفظ المجرد وتعليمه  تعلم الوسائل وتعليمها

sedangkan mempelajari dan mengajarkan lafadz semata (hakekatnya) adalah mempelajari dan mengajarkan sarana

 وبينهما كما بين الغايات والوسائل “

Dan (perbandingan) diantara keduanya seperti perbandingan antara tujuan dan sarana.

Kesimpulan

  • Mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya mencakup dua macam sekaligus,yaitu : Lafadz dan maknanya. Berarti kedua-duanya sama-sama pentingnya.
  • Perbandingan keduanya, seperti perbandingan antara tujuan dan sarana. Berarti, jenis yang satu lebih mulia dari yang lainnya.

Mempelajari makna-maknanya dan mengajarkan makna-maknanya (tafsirnya) lebih mulia dari mempelajari huruf-hurufnya dan mengajarkan huruf-hurufnya saja (tajwidnya semata).

Oleh karena itu, pantaslah jika dua orang yang masyhur disebut sebagai pakar Tafsir di kalangan Sahabat, yaitu: Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dan selain keduanya, berpandangan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an dengan tartil dan mentadabburi (merenungi) maknanya -walaupun sedikit jumlah Ayat Al-Qur’an yang dibacanya- lebih utama daripada orang yang cepat dalam membaca Al-Qur’an, sehingga banyak jumlah Ayat Al-Qur’an yang dibacanya, namun tanpa mentadabburi maknanya.

Di zaman Al-Fudhail rahimahullah pun sudah dijumpai adanya orang yang didalam mengamalkan Al-Qur’an lebih kepada “sebatas membacanya semata”, padahal sesungguhnya mengamalkan Al-Qur’an lebih luas daripada sekedar membacanya saja, karena dalam Al-Qur’an terdapat aqidah, ibadah, mu’amalah dan hukum-hukum Islam yang tertuntut untuk kita amalkan.

 Berkata Al-Fudhail rahimahullah menuturkan fenomena yang beliau lihat di masanya :

إنما نزل القرآن ليعمل به ، فاتخذ الناس قراءته عملا 

“Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, namun ternyata ada saja orang yang menjadikan (sebatas) membacanya sebagai sebuah bentuk pengamalannya”,

Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah setelah membawakan perkataan Al-Fudhail di atas, bertutur :

فأهل القرآن هم العالمون به والعاملون بما فيه، لا بمجرد إقامة الحروف

“Ahlul Qur’an, mereka adalah orang-orang yang mengetahui maknanya dan mengamalkan isinya, bukan hanya sekedar melafadzkan huruf-hurufnya dengan benar.”

  

Wallahu a’lam.

Untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an, coba baca artikel berikut.

Disalim dari SumberArtikel: Muslim.or.id,Penulis Muhammad Nur Ichwan Muslim

Penulis; Rachmat.M.Flimban

16 Juni, 2021

Belajar Baca al-Qur’an

QUR'AN


Yuk belajar membaca Qur’an menggunakan Metode BisaQuran, sebuah sistem belajar Qur’an yang cepat, mudah dan menyenangkan. Telah dirasakan manfaatnya oleh lebih dari 2.573 pengguna di Jakarta, Surabaya, Medan, Bekasi, Malang … serta berbagai kota lainnya.

Testimoni Pengguna

Metodenya sangat mudah dicerna dan dipahami, dalam waktu 2 hari saya sudah bisa langsung membaca al-Qur’an — Citra Kharisma, 31 tahun, Presenter

Metode ini sangat mudah diingat, terutama buat orang tua yang baru belajar baca al-Qur’an. Waktu kecil saya tidak percaya kalau dalam 3 hari sudah bisa membaca al-Qur’an, tetapi setelah saya menjalaninya, ternyata benar. Metode ini memang luar biasa — Sri Enyati (62 tahun), Wiraswasta, Cilandak, Jakarta Selatan

Ustadz yg membawakan pembelajaran di video sungguh sangat bagus … saya SANGAT puas dengan pembelajaran ini, … selama 2 minggu saya belajar metode ini saya sungguh mendapatkan manfaatnya — Aloysius (Muallaf), Ungaran, Jawa Tengah

Menurut saya, cara pembelajaran metode ini sangat bagus dan mudah dimengerti … Setelah saya belajar metode ini, alhamdulilllaah saya sekarang bisa baca al-Qur’an — Nyonya Suwarti S (63 tahun), Nyutran, Yogyakarta

Mudah dan Cepat

Cukup 15 menit per hari selama 21 hari untuk mempelajari seluruh materi. Setelahnya Anda akan mulai bisa membaca al-Qur’an, bahkan teks bacaan sholat, juga teks berbagai do’a dan dzikir. InsyaaAllah.

Pelajaran akan Anda dapatkan dalam bentuk:

1 Buku Panduan Utama

  • Dicetak di kertas ukuran 18 cm x 23 cm, 120 halaman
  • Kualitas cetakan tinggi dan nyaman dibaca

6 Video Tutorial (MP4)

  • Kualitas HD (1920 x 1080) dengan total durasi 4,5 jam
  • Akses video melalui streaming dan download
  • Dapat dilihat di handphone, tablet dan laptop
  • Dikirim juga melalui DVD ke alamat Anda

1 Ebook Bonus (PDF)

  • Berisi tips-tips berdasar pengalaman pribadi kami, di mana kami alhamdulillaah lancar membaca al-Qur’an, hingga pernah menang lomba tilawah dan bisa menghafal juz 30 (juz ‘Amma) dalam waktu dua (2) bulan secara mudah

Membantu Anak Yatim

Membeli paket BisaQuran berarti membantu anak-anak yatim, sebab sebagian dari hasil penjualan paket BisaQur’an akan disumbangkan untuk membantu pendidikan anak yatim yang kami salurkan melalui lembaga terpercaya. Ilmu dapat, pahala pun dapat, insyaaAllah.

Bayar Setelah Sampai

Membeli paket BisaQuran dijamin aman karena barang kami kirim dulu ke tempat Anda. Setelah barang Anda terima, barulah Anda berkewajiban untuk membayar dalam 3 x 24 jam setelah barang diterima, jika dan hanya jika Anda merasa puas dengan produk kami. Jika tidak puas? Kembalikan saja ke alamat kami dan Anda tidak perlu membayar apa pun, 100% aman.

Masalahnya stok kami terbatas, jika habis maka perlu berminggu-minggu untuk pre-order … Jadi, tunggu apa lagi? Isi form pemesanan sekarang!

Harga Kursus Lain

Rp 500.000

Harga BisaQuran

Rp 199.000

Free Ongkos Kirim Seluruh Indonesia

Form Pemesanan

Punya Pertanyaan?

Baca tanya-jawab seputar BisaQuran

SUMBER ALMANHAJ

13 Januari, 2021

Tidak Ada Perintah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk Berpecah Belah dan Berkelompok-Kelompok

Al-Qur'an

Tidak Ada Perintah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk Berpecah Belah dan Berkelompok-Kelompok

dr. M Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D

Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah 

Pertanyaan: 

Adakah nash (dalil) dari Kitabullah dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bolehnya berpecah belah dalam berbagai kelompok (jamaah) Islam? 

Jawaban: 

Tidak ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dalil yang membolehkan berbilangnya jamaah dan kelompok (hizb). Bahkan yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah dalil yang mencelanya. Allah Ta’ala berfirman, 

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ 

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolong-golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah. Kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-An’am [6]: 159) 

مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ 

“Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum [30]: 32) 

Tidak diragukan lagi bahwa kelompok-kelompok ini menafikan (menihilkan) perintah Allah Ta’ala dan bahkan bertentang dengan apa yang dimotivasi oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya, 

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ 

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (QS. Al-Mu’minuun [23]: 52) 

Lebih-lebih ketikakalau kita melihat dampak dan pengaruh dari perpecahan dan kelompok-kelompok tersebut ketika masing-masing kelompok menghina, mencela, dan mem-fasik-kan kelompok lainnya, dan terkadang lebih parah dari itu. Oleh karena itu, aku berpendapat bahwa kelompok-kelompok tersebut adalah sebuah kesalahan. 

Sebagian mereka berkata bahwa tidak mungkin bagi dakwah ini untuk kuat dan tersebar kecuali dengan adanya kelompok-kelompok tersebut? 

Kami katakan, perkataan tersebut tidaklah benar. Bahkan dakwah tersebut bisa kuat dan tersebar kalau seseorang itu semakin berpegang teguh dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan semakin mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’) dan khulafaur rasyidin. 

Baca Juga: 

Aqidah Pertengahan Ahlus Sunnah di antara Berbagai Kelompok yang Menyimpang

Mencela Pemimpin, Ciri Khas Kelompok Khawarij

[Selesai] 

*** 

@Rumah Lendah, 1 Syawal 1441/ 24 Mei 2020 

Penerjemah: M. Saifudin Hakim 

Di Nukil dari Sumbear Artikel: Muslim.or.id 

Catatan kaki: 

Diterjemahkan dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat hal. 131, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala. 

🔍 Pintu Surga, Zakat Hewan Ternak, Kisah Isro Mi Roj, Dalil Istighosah, Waktu Solat Dzuhur